Sunday, March 4, 2018

Review Buku: Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda by Tineke Hellwig


Tema                           : Sejarah Perempuan Masa Kolonial
Pengarang                  : Tineke Hellwig
Judul Buku                  : Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda
Tahun Penerbit           : 2007
Kota Penerbit              : Jakarta
Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia

Buku karya Tineke Hellwig ini sangat menarik untuk dibaca karena pembaca bisa mengetahui dan memahami bagaimana kedudukan perempuan, baik perempuan pribumi, perempuan Indo maupun perempuan Eropa di masa kolonial yang digambarkan dalam teks-teks kesusastraan sezaman, yaitu akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menjadikan teks-teks kesusastraan sezaman menjadi sumber sejarah untuk mengetahui dan memahami keadaan sosial-budaya terutama kondisi dan kedudukan perempuan masa kolonial menjadi suatu keunikan dari buku ini yang merupakan alasan pertama saya memilih buku ini untuk di-review.
Dari teks-teks kesusastraan yang diceritakan dalam buku ini, pembaca dapat memahami dan merasakan bagaimana kehidupan dan kondisi para perempuan di tatanan kehidupan kolonial di berbagai bentuk kisah yang dikarang oleh orang Eropa maupun orang Non-Eropa. Teks-teks kesusastraan yang ada dalam buku ini disajikan dalam bentuk ringkasan-ringkasan cerita tetapi meskipun begitu, jiwa kisah yang ada pada teks-teks kesusastraan tersebut masih bisa dirasakan oleh pembaca.
Alasan kedua saya memilih buku ini untuk di-review adalah buku Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda ini tidak tebal (134 halaman) sehingga tidak memberatkan pembaca yang malas dengan buku yang tebal. Meskipun buku ini bisa dikatakan tidak tebal, namun isi dari buku ini bisa disampaikan secara runtut, mudah dipahami baik bahasa maupun jalan cerintanya, lengkap, tidak menjemuhkan dan yang paling penting adalah Tineke Hellwig berhasil menyampaikan tujuan serta pesan dari buku ini dengan baik. Selain itu yang membuat buku ini semakin menarik adalah pembaca dihadapkan dengan “fakta-fakta” sejarah perempuan masa kolonial yang jarang kita temukan di buku-buku masa kolonial yang basic. Pembaca diajak memahami perasaan, kondisi dan kedudukan perempuan baik dari pihak perempuan pribumi, Indo, maupun Eropa dari kisah-kisah yang berbeda-beda yang dipaparkan pada buku ini.
Pada bagian paling awal dari buku Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda, Tineke Hellwig berusaha mengantar pembaca untuk mengatahui sejarah kolonial (Hindia-Belanda) secara umum, yang bertujuan agar pembaca bisa memahami terlebih dahulu setting dari bahasan inti dari buku ini. Bab I, II dan III merupakan penjelasan mengenai konteks ekonomi dan sosial-budaya masa kolonial. Pada Bab I, penulis memberikan penjelasan mengenai dampak bangsa Eropa pada orang-orang yang hidup di Kepulauan Nusantara, dan Bab II dan III penulis berusaha meninjau perubahan-perubahan ekonomi-sosial yang berlangsung pada abad ke-19. Setelah bab-bab tersebut, penulis mulai membahas isi pokok dari buku ini, yaitu kondisi sosial perempuan di masa Hindia-Belanda yang terdapat pada teks-teks kesusastraan sezaman yang disajikan oleh penulis.
Bab I yaitu “Pengantar” berisikan sejarah Hindia-Belanda di Kepulauan Nusantara, dari Affonso de Albuquerque yang merupakan orang Eropa pertama yang datang ke Asia Tenggara tahun 1511, Bangsa Belanda pertama kali datang ke Kepulauan Nusantara yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596, masa VOC, masa Daendels (1808-1811), masa Thomas Stamford Raffles, masa Cultuurstelsel oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch, sampai masa Undang-Undang Agraria 1970. Namun, inti dari bab ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan dari kedatangan Bangsa Eropa di Kepulauan Nusantara yaitu timbulnya penggolongan masyarakat Hindia berdasarkan etnis, yaitu golongan Eropa asli, Indo, Timur Asing (Cina, India, Arab) dan pribumi. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan mengenai kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindia, seperti banyaknya orang kulit putih yang melakukan hubungan cinta dengan perempuan Asia karena mereka datang ke Hindia-Belanda dalam keadaan melajang (bujangan).
Bab II yaitu “Ekonomi dan Masyarakat Jajahan” berisikan keadaan ekonomi dan sosial-budaya di Hindia-Belanda pada abad ke-19. Bab ini menjelaskan keadaan ekonomi di Hindia-Belanda dari diterapkannya Cultuurstelsel, UU Agraria dan masa-masa akhir abad ke-19. Dari keadaan ekonomi di Hindia-Belanda, telah dijabarkan pengaruh segala kebijakan dan keadaan ekonomi dengan kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindia-Belanda, termasuk fakta bahwa masyarakat pribumi yang merupakan golongan terendah dari stratifikasi sosial Hindia-Belanda sangat tertindas, terutama para perempuan (masalah pergundikan dan nyai).
Bab III yaitu “Perempuan dan Hubungan Jender” yang berisikan kondisi dan kedudukan perempuan di Hindia Belanda, terutama para perempuan pribumi. Pada bab ini, dijelaskan bahwa pada masa VOC para bujangan Belanda didukung untuk membuat hubungan dengan perempuan Asia demi terbentuknya komunitas warga yang mantap dan bertahan di Kepulauan Nusantara, dengan syarat bahwa perempuan tersebut harus mau untuk masuk agama Kristen. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan tentang budak perempuan dari golongan pribumi yang harus menjadi gundik dan nyai para serdadu Belanda maupun atasan-atasannya. Bila orang Eropa mendapatkan anak dari perempuan pribumi, kebanyakan anak-anak yang disebut sebagai anak Indo tersebut diserahkan ke rumah yatim piatu atau tetap bersama ayah mereka. Yang menarik dari bahasan tersebut adalah munculnya budaya membalikkan nama keluarga saat mengadopsi atau mengesahkan anak Indo-nya.
Bab IV adalah “Para Pengarang dan Khalayak Pembacanya” yang berisikan penjelasan dari pengaranag-pengarang karya sastra pada abad ke-19 beserta perbedaan-perbedaan dari karya-karya mereka seperi dari segi bahasa (Belanda atau Melayu) dan pembacanya. Bahasa yang berbeda dalam karya sastra menunjukkan perbedaan khalayak pembacanya juga. Karya sastra pada masa itu terdiri dari karya sastra dari pengarang Belanda (menggunakan bahasa Belanda) dan karya sastra dari peranakan orang Tionghoa atau orang Indo (menggunakan bahasa Melayu). Adapun pengarang karya sastra orang Belanda seperti Louis Couperus, P. A. Daum, Annie Foore, Melati Van Java, dan Therese Hoven. Sedangkan pengarang karya sastra berbahasa Melayu seperti Gouw Peng Liang, Phoa Tjoen Huat, Njoo Cheong Seng, Herman Kommer, dan G. Francis. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan mengenai diskriminasi pengarang karya sastra dari pengarang perempuan.
Bab ke V adalah “Kecemburuan dan Rasa Tidak Puas” yang berisikan kisah-kisah yang diambil dari novel-novel karya pengarang Belanda. Inti cerita berkisar sekitar tokoh-tokoh Eropa, yaitu orang Belanda dan Indo. Menurut Hellwig (2007:64), “Sifat problematik masyarakat Hindia-Belanda dengan pengucilan rasialnya menggema di hampir kebanyakan kisah”. Dua tema yang dominan dari kisah-kisah yang dijabarkan pada bab ini adalah sifat misterius yang terdapat pada dunia khatulistiwa di Asia dan moralitas seksual yang mencakup masalah gundik dan voorkinderen. Banyak cerita yang disajikan di bab ini dengan jalan cerita yang berbeda-beda namun kebanyakan membentuk pola yang sama. Kebanyakan kisah-kisah yang diceritakan dari pengarang-pengarang yang disebutkan pada bab IV, adalah kisah kehidupan dari orang Belanda dengan nyai-nya, masalah voorkinderen setelah orang Belanda tersebut menikah dengan perempuan Eropa dan masalah balas dendam karena adanya kecemburuan.
Bab VI yaitu “Penerimaan dan Penyesuaian” yang berisikan karya-karya sastra berbahasa Melayu yang dikarang oleh peranakan orang Tionghoa maupun Indo. Yang berbeda antara karya sasta pada bab ini dengan bab sebelumnya adalah, karya-karya sastra berbahasa Melayu ini menggunakan perspektif oranng pribumi, sehingga tokoh-tokoh utama yaitu tokoh protagonisnya adalah perempuan pribumi. Tidak seperti pada karya sastra orang Belanda yang diceritakan pada bab V yang ditulis dari persektif orang Belanda dan merendahkan perempuan pribumi sebagai pembawa masalah.
Pada bab VII, yaitu “Gambaran tentang Perempuan” berisikan kesimpulan, analisis dan pembahasan dari tokoh-tokoh perempuan yang telah dibahas dari bab-bab sebelumnya baik dari karya sastra berbahasa Belanda maupun berbahasa Melayu. Adapun hasil analisis Hellwig pada bab ini seperti dari kisah Marie dan Yps (pada bab V) dapat diketahui bahwa perspektif orang Barat, tokoh nyai pada kisah tersebut merupakan makhluk jahat dan merusak. Selain itu, disimpulkan bahwa perempuan-perempuan Eropa dari kisah-kisah tersebut mengalami kesulitan menerima kehidupan luar perkawinan dan voorkinderen dari suaminya, dan banyak lagi hasil analisis dari kisah-kisah lainnya.
Dalam buku ini, Hellwig menggunakan model sejarah sosial Peter Burke yaitu model sejarah mikro. Adapun ciri-ciri model sejarah mikro adalah model sejarah yang berfokus pada sejarah orang-orang kecil, mengenai kehidupan sehari-hari, berskala kecil namun mendalam dan menekankan pada keunikan atau kekhasan. Dalam Burke (2015:60), sejarawan mikro bisa memfokuskan pada satu individu, satu kejadian, atau satu masyarakat kecil sebagai obyek khusus kajian yang dari sana diamati ketidakselarasan sistem sosial, celah-celah, keretakan-keretakan pada struktur, dan lain sebagainya. Dalam buku ini, Hellwig menuliskan mengenai perempuan-perempuan di masa kolonial Hindia-Belanda, kehidupan mereka sehari-hari dalam rumah tangga yang terdapat pada karya-karya sastra sezaman dan keunikan-keunikan setiap cerita yang menggambarkan kehidupan perempuan pribumi maupun Eropa pada masa itu.
Penulis dalam menuliskan buku ini, menggunakan konsep dan teori mengenai peranan dan kedudukan sosial kaum perempuan dalam struktur sosial Hindia-Belanda serta mengenai kecemburuan sosial yang dapat dirasakan dalam karya-karya sastra sezaman. Bagaimana peranan perempuan pribumi terutama nyai dalam rumah tangga masa kolonial, kedudukannya sebelum dan setelah datang istri sah (perempuan Eropa) dan peristiwa-peristiwa tragis yang dituangkan dalam cerita sastra sebagai dampak kecemburuan nyai ataupun perempuan Eropa di masa Hindia-Belanda, dijelaskan secara runtut dan jelas oleh penulis.
Dari buku karya Hellwig ini, pembaca mendapat pelajaran berharga bahwa dalam struktur sosial masyarakat kolonial, banyak menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan banyak usaha penyesuaian, terutama kaum perempuan yang pada penulisan sejarah Indonesia, sering diabaikan peranan dan kehidupannya. Kaum perempuan baik dari Eropa, Indo maupun pribumi memiliki kedudukan yang berbeda-beda dalam struktur sosial kolonial yang membuat banyak permasalahan pada masa itu yang sebenarnya bisa dikaji lebih lanjut.

DAFTAR RUJUKAN
Hellwig, Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burke, Peter. 2015. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


No comments:

Post a Comment

INDISCHE PARTIJ