Sunday, March 4, 2018

INDISCHE PARTIJ

Semakin terbuka dan majunya pikiran manusia terhadap supremasi bangsa asing, maka semakin meningkatnya kemauan untuk maju dan beremansipasi dari kehidupan yang penuh diskriminasi. Ide-ide kemajuan itulah yang akhirnya memicu suatu gerakan politik. Gerakan politik terbuka pertama di masa pergerakan nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya Indhisce Partij (1912). Menurut Pringgodigdo dkk (1973:451), Indische Partij merupakan perhimpunan politik di zaman penjajahan, didirikan di Bandung (25 Desember 1912) oleh 3 Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker (Setyabudi), Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo.
Gambar 1. Tiga Serangkai Pendiri Indische Partij
(Sumber: kompasiana.com)

Ide pendirian Indische Partij, dipelopori oleh E.F.E Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi) pada tahun 1911, yang berdarah Indo-Hindia (Indier). Dia adalah orang yang sering mengkritisi sistem kolonial Belanda. Poesponegoro (2010:350), bahwa Douwes Dekker menyampaikan kekritisannya dengan menulis karangan-karangan seperti Het Tijdshrift dan De Express, di mana isi karangannya tersebut berisi propaganda, yaitu pelaksanaan suatu program “Hindia” untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan menghapuskan supremasi kolonial serta menyadarkan golongan Indo-Hindia dan penduduk bumiputra, bahwa mereka memiliki musuh yang sama yaitu kolonialisme Belanda.
Menurut Kartodirdjo (2015:296), bahwa Indische Partij berdasar atas ide penderitaan bersama di tanah koloni Belanda. Bila dilihat dari kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan 3 Serangkai, terutama Douwes Dekker yang merupakan pelopor berdirinya Indische Partij adalah ingin melepaskan diskriminasi bagi Indier agar bisa hidup lebih layak dan bisa terbebas (merdeka) dari supremasi Belanda. Meskipun Budi Utomo merupakan pelopor semangat pergerakan nasional, tetapi Indische Partij-lah pelopor konsepsi nasional dan ide kemerdekaan pertama yang secara terang-terangan dilakukan dengan melalui jalan politik.
Pada tanggal 25 Desember 1912, saat pembentukan Indische Partij tersusunlah program-program revolusioner IP yang akan membantu indiers mencapai tujuan nya. Tujuan utama Indische Partij ialah untuk mencapai kebebasan dari supremasi Belanda, meningkatkan jiwa kesatuan (nasionalisme) dan patriotisme, serta memajukan negara. Dalam Poesponegoro (2010:351), disebutkan cara-cara Indische Partij mencapai tujuan utama mereka, yaitu:
1.      Memelihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua Indiers.
2.      Memberantas rasa paling unggul atas SARA, yang menghalangi persatuan di Hindia.
3.      Memperkuat daya tahan rakyat (lahir-batin)
4.      Berusaha mendapatkan persamaan hak bagi semua rakyat Hindia.
5.      Memperbaiki keadaan ekonomi rakyat Hindia
6.      Memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan, dan seterusnya.
Dalam menjalankan programnya, Indische Partij sangat reaksioner dan berani. Dalam Gede Agung (2011:32), bahwa.
“Keberanian dari IP, terlihat juga dengan mengadakan protes terhadap keinginan Belanda untuk memperingati hari bebas negaranya yang ke-100 tahun (1913) dari kekuasaan Perancis (1813). Apalagi dalam peringatan tersebut adanya keinginan untuk menarik dana dari masyarakat pribumi, tentu tindakan ini sangat menyinggung perasaan terhadap negara yang sedang terjajah. ....”

Protes-protes mereka dituangkan dalam tulisan-tulisan persuasif, yang membangkitkan dan menyadarkan rakyat Hindia bahwa mereka harus bersatu untuk bangkit untuk merdeka dari supremasi kolonial.  Menurut Gede Agung (2011:32), tulisan-tulisan tersebut berupa pamflet-pamflet, di antaranya adalah Als k cen Nederlanders Was (Andaikan aku seorang Belanda), Kracht of Vress (kekuatan atau ketakutan), Een voor Allen naar ook Allen voor Een (satu buat semua, tetapi juga buat satu), Onze Helden: Tjipto Mangunkusumo en R. M. Suwardi Suryaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangunkusumo dan R. M. Suwardi Suryaningrat) Tulisan-tulisan mereka berisi kritikan atas ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah. Belanda semakin marah, karena propaganda yang dilakukan terang-terangan oleh Indische Partij. Menurut Dijk (2007:61), ““.... The Indische Partij was transformed into a banned organization. In the eyes of idenburg and his advisers, it had taken on the guise of a political party....”. Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Indische Partij akhirnya berubah menjadi partai politik yang dilarang oleh Pemerintah Belanda, karena menyuarakan propaganda-propaganda politik yang dapat mengancam Belanda. Untuk itu Belanda mengeluarkan surat keputusan, yaitu melarang kegiatan Indische Partij dan mengucilkan 3 tokoh utama dalam Indische Partij, yaitu 3 Serangkai.
“.... Menurut penilaian pemerintah sudah terlalu jauh bila orang berpropaganda menentang diskriminasi rasial dan berjuang demi Hindia yang mandiri, lepas dari negara Belanda. maka Indische Partij pun dilarang pada Maret 1913. Namun Douwes Dekker tetap aktif dan agresif dalam mempropagandakan gagasan-gagasan dan kritiknya” (Poeze, 2008:89).

Menurut Dekker (1975) dan Shiraishi (1997), aksi larangan Belanda itu dikarenakan Belanda menganggap kegiatan Indische Partij telah melanggar Undang-Undang tahun 1854 Regering Reglement (RR) pasal 3 yang isinya bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan soal pemerintahan (politik) atau yang membahayakan keamanan umum di larang di Hindia Belanda (Gede Agung, 2011:32).

Dari surat keputusan Belanda tersebut, tokoh 3 Serangkai yaitu Douwes Dekker, Soewardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Belanda pada tahun 1913, ini menyebabkan Indische Partij lemah dan mengganti nama menjadi Partai Insulinde (1907). Meskipun begitu, partai ini tetap lemah tanpa 3 Serangkai, apalagi tidak banyak pribumi dan Indo-Hindia yang tertarik bergabung dengan Partai Insulinde. Mereka lebih memilih organisasi-organisasi lain.

Pada tahun 1918, Douwes Dekker kembali dari pengasingan. Meskipun begitu, tidak ada yang berubah karena sangat sulit membangun Partai Insulinde lagi. Sehingga Douwes Dekker pada tahun 1919 di bulan Juni mendirikan Nationaal Indische Partij.



 REFERENSI
Agung, Dewa Agung Gede. 2011. Sejarah Indonesia Modern Periode 1908-1949. Malang: Malang Press.
Dijk, Cornelis. 2007. The Netherlands Indies and The Great War 1914-1918. Leiden: KITLV Press.
Kartodirdjo, Sartono. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro, Marwati Djoened. 2010. Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka.
Poeza, Harry A. 2008. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia Di Negeri Belanda 1600-1950. Jakarta: Gramedia.
Pringgodigdo, Mr. A. G, dkk. 1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Kanisius.


Sumber Foto

https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2015/10/31/tiga-serangkai 5633b8341193739d0b64c0b6.jpg

No comments:

Post a Comment

INDISCHE PARTIJ