Sunday, March 4, 2018

INDISCHE PARTIJ

Semakin terbuka dan majunya pikiran manusia terhadap supremasi bangsa asing, maka semakin meningkatnya kemauan untuk maju dan beremansipasi dari kehidupan yang penuh diskriminasi. Ide-ide kemajuan itulah yang akhirnya memicu suatu gerakan politik. Gerakan politik terbuka pertama di masa pergerakan nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya Indhisce Partij (1912). Menurut Pringgodigdo dkk (1973:451), Indische Partij merupakan perhimpunan politik di zaman penjajahan, didirikan di Bandung (25 Desember 1912) oleh 3 Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker (Setyabudi), Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo.
Gambar 1. Tiga Serangkai Pendiri Indische Partij
(Sumber: kompasiana.com)

Ide pendirian Indische Partij, dipelopori oleh E.F.E Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi) pada tahun 1911, yang berdarah Indo-Hindia (Indier). Dia adalah orang yang sering mengkritisi sistem kolonial Belanda. Poesponegoro (2010:350), bahwa Douwes Dekker menyampaikan kekritisannya dengan menulis karangan-karangan seperti Het Tijdshrift dan De Express, di mana isi karangannya tersebut berisi propaganda, yaitu pelaksanaan suatu program “Hindia” untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan menghapuskan supremasi kolonial serta menyadarkan golongan Indo-Hindia dan penduduk bumiputra, bahwa mereka memiliki musuh yang sama yaitu kolonialisme Belanda.
Menurut Kartodirdjo (2015:296), bahwa Indische Partij berdasar atas ide penderitaan bersama di tanah koloni Belanda. Bila dilihat dari kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan 3 Serangkai, terutama Douwes Dekker yang merupakan pelopor berdirinya Indische Partij adalah ingin melepaskan diskriminasi bagi Indier agar bisa hidup lebih layak dan bisa terbebas (merdeka) dari supremasi Belanda. Meskipun Budi Utomo merupakan pelopor semangat pergerakan nasional, tetapi Indische Partij-lah pelopor konsepsi nasional dan ide kemerdekaan pertama yang secara terang-terangan dilakukan dengan melalui jalan politik.
Pada tanggal 25 Desember 1912, saat pembentukan Indische Partij tersusunlah program-program revolusioner IP yang akan membantu indiers mencapai tujuan nya. Tujuan utama Indische Partij ialah untuk mencapai kebebasan dari supremasi Belanda, meningkatkan jiwa kesatuan (nasionalisme) dan patriotisme, serta memajukan negara. Dalam Poesponegoro (2010:351), disebutkan cara-cara Indische Partij mencapai tujuan utama mereka, yaitu:
1.      Memelihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua Indiers.
2.      Memberantas rasa paling unggul atas SARA, yang menghalangi persatuan di Hindia.
3.      Memperkuat daya tahan rakyat (lahir-batin)
4.      Berusaha mendapatkan persamaan hak bagi semua rakyat Hindia.
5.      Memperbaiki keadaan ekonomi rakyat Hindia
6.      Memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan, dan seterusnya.
Dalam menjalankan programnya, Indische Partij sangat reaksioner dan berani. Dalam Gede Agung (2011:32), bahwa.
“Keberanian dari IP, terlihat juga dengan mengadakan protes terhadap keinginan Belanda untuk memperingati hari bebas negaranya yang ke-100 tahun (1913) dari kekuasaan Perancis (1813). Apalagi dalam peringatan tersebut adanya keinginan untuk menarik dana dari masyarakat pribumi, tentu tindakan ini sangat menyinggung perasaan terhadap negara yang sedang terjajah. ....”

Protes-protes mereka dituangkan dalam tulisan-tulisan persuasif, yang membangkitkan dan menyadarkan rakyat Hindia bahwa mereka harus bersatu untuk bangkit untuk merdeka dari supremasi kolonial.  Menurut Gede Agung (2011:32), tulisan-tulisan tersebut berupa pamflet-pamflet, di antaranya adalah Als k cen Nederlanders Was (Andaikan aku seorang Belanda), Kracht of Vress (kekuatan atau ketakutan), Een voor Allen naar ook Allen voor Een (satu buat semua, tetapi juga buat satu), Onze Helden: Tjipto Mangunkusumo en R. M. Suwardi Suryaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangunkusumo dan R. M. Suwardi Suryaningrat) Tulisan-tulisan mereka berisi kritikan atas ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah. Belanda semakin marah, karena propaganda yang dilakukan terang-terangan oleh Indische Partij. Menurut Dijk (2007:61), ““.... The Indische Partij was transformed into a banned organization. In the eyes of idenburg and his advisers, it had taken on the guise of a political party....”. Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Indische Partij akhirnya berubah menjadi partai politik yang dilarang oleh Pemerintah Belanda, karena menyuarakan propaganda-propaganda politik yang dapat mengancam Belanda. Untuk itu Belanda mengeluarkan surat keputusan, yaitu melarang kegiatan Indische Partij dan mengucilkan 3 tokoh utama dalam Indische Partij, yaitu 3 Serangkai.
“.... Menurut penilaian pemerintah sudah terlalu jauh bila orang berpropaganda menentang diskriminasi rasial dan berjuang demi Hindia yang mandiri, lepas dari negara Belanda. maka Indische Partij pun dilarang pada Maret 1913. Namun Douwes Dekker tetap aktif dan agresif dalam mempropagandakan gagasan-gagasan dan kritiknya” (Poeze, 2008:89).

Menurut Dekker (1975) dan Shiraishi (1997), aksi larangan Belanda itu dikarenakan Belanda menganggap kegiatan Indische Partij telah melanggar Undang-Undang tahun 1854 Regering Reglement (RR) pasal 3 yang isinya bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan soal pemerintahan (politik) atau yang membahayakan keamanan umum di larang di Hindia Belanda (Gede Agung, 2011:32).

Dari surat keputusan Belanda tersebut, tokoh 3 Serangkai yaitu Douwes Dekker, Soewardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Belanda pada tahun 1913, ini menyebabkan Indische Partij lemah dan mengganti nama menjadi Partai Insulinde (1907). Meskipun begitu, partai ini tetap lemah tanpa 3 Serangkai, apalagi tidak banyak pribumi dan Indo-Hindia yang tertarik bergabung dengan Partai Insulinde. Mereka lebih memilih organisasi-organisasi lain.

Pada tahun 1918, Douwes Dekker kembali dari pengasingan. Meskipun begitu, tidak ada yang berubah karena sangat sulit membangun Partai Insulinde lagi. Sehingga Douwes Dekker pada tahun 1919 di bulan Juni mendirikan Nationaal Indische Partij.



 REFERENSI
Agung, Dewa Agung Gede. 2011. Sejarah Indonesia Modern Periode 1908-1949. Malang: Malang Press.
Dijk, Cornelis. 2007. The Netherlands Indies and The Great War 1914-1918. Leiden: KITLV Press.
Kartodirdjo, Sartono. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro, Marwati Djoened. 2010. Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka.
Poeza, Harry A. 2008. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia Di Negeri Belanda 1600-1950. Jakarta: Gramedia.
Pringgodigdo, Mr. A. G, dkk. 1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Kanisius.


Sumber Foto

https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2015/10/31/tiga-serangkai 5633b8341193739d0b64c0b6.jpg

Review Buku: Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu by Sidi Gazalba


Judul               : Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu
Pengarang       : Sidi Gazalba
Tahun Terbit    : 1981
Kota Terbit      : Jakarta
Penerbit           : Bhratara Karya Aksara
INTI SARI BUKU
Buku ini berisi: apa sejarah itu, bagaimana metodenya, bagaimana dan apa yang telah terjadi dalam penulisannya, apa sumber dan bahan-bahan sejarah, apa masalah dan filsafat sejarah. Dalam “Pengantar”, penulis menjelaskan mengenai fungsi sejarah sebagai bahan untuk membuat rencana untuk melakukan pembangunan negara. Adapun inti-inti dari setiap bab pada buku ini sebagai berikut.
Ø  Bab I adalah “Pengertian”, berisi soal etimologi, beberapa definisi masalah pengertian dan penyusunan suatu definisi yang menjadi tempat berpijak pembicaraan selanjutnya. Dalam bab ini dijelaskan bahwa isi pengertian sejarah dalam kebudayaan Barat berbeda dari pra kebudayaan Barat. Pada masa pra kebudayaan Barat, sejarah identik dengan silsilah, babad. Tarikh, mitos dan legenda. Sedangkan istilah sejatah pada masa sekarang ekuivalen dengan history. Perbedaan sejarah timbul karena sejarah adalah bikinan manusia. Pikiran manusialah yang membuat sejarah, karena pikiran itu tidak ama pulalah hasilnya. Sejarah dibuat oleh manusia berdasarkan fakta-fakta atau warisan masa lalu. Manusia di sini adalah subyek dan fakta atau warisan adalah obyek. Di akhir bagian Bab I, penulis memberikan kesimpulan berupa definisi sejarah yaitu “Sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluks sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan, yang memberi pengertian tentang apa yang telah berlalu itu”.
Ø  Bab II adalah “Metode Ilmu Sejarah”, berisi sifat, obyek, dan pembentukan gambaran sejarah, masalah kenyataan dan fakta sejarah, perbandingan antara metode sejarah, ilmu, dan ciptaan. Di bab ini, penulis menekankan mengenai perbedaan sifat ilmu alam dan sejarah. Ilmu alam mengambil kausalitas sebagai asas, sedangkan ilmu-ilmu sosial kondisionalitas, suasana, keadaan. Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa metode sejarah adalah memastikan dan menyatakan kembali fakta-fakta masa lalu yang mana fakta-fakta tersebut didapatkan dari bahan-bahan sejarah.
Ø  Bab III adalah “Penulisan Sejarah”, berisi isi, bentuk, dan sifat kisah sejarah, sketsa sejarah penulisan Barat, penulisan Islam, penulisan Tiongkok, dan penulisan Indonesia. Dalam subbab sketsa sejarah penulisan Barat, penulis menguaraikan perkembangan penulisan sejarah di Barat dari masa bangsa bersahaja sampai masa setelah Renaissance. Penulisan Islam, di tekankan pada metode penulisan Hadist yaitu metode isnad. Penulisan Tiongkok menginginkan pengetahuan masa lalunya untuk dijadikan cermin tentang kebajikan dan susila (moral). Di bagian terakhir yaitu penulisan Indonesia, penulis menjabarkan perkembangan penulisan sejarah dari zaman prasejarah sampai masa setelah kemerdekaan.
Ø  Bab IV, adalah “Pembagian Sejarah”, berisi tentang gerak sejarah pengurunan atau periodisasi, pengurunan positivisme Comte, pembagian sejarah menurut ranting atau kekhususannya: di antara sejarah khusus itu dibahas secara tersendiri sejarah kebudayaan dan prasejarah. Pada bab ini, penulis menekankan mengenai masalah dari dari gerak sejarah, apakah jalan sejarah itu merupakan proses saling hubung ataukah gerak lingkar. Selain itu, dijelaskan bahwa gerak sejarah sebagai gerak kemajuan. Di bab ini juga dijelaskan mengenai mengenai pembagian sejarah menurut Comte (keagamaan, metafisika dan positivisme), dan pembagian menurut ranting (pemusatan perhatian pada bagian khusus dari sejarah).
Ø  Bab V adalah “Sumber Sejarah”, berisi tentang sumber bahan-bahan sejarah, ilmu-ilmu bantu sejarah, yaitu ilmu purbakala, ilmu piagam (oorkondeleer), filologi, ilmu tulisan kuno (palaeografie), ilmu hitung waktu (chronologie), ilmu mata uang (numismatiek), ilmu keturunan (genealogie). Pada bab ini, penulis menjelaskan mengenai pembagian warisan (sumber sejarah) yaitu warisan lisan, tulisan dan visual. Selain itu juga dijelaskan mengenai heuristik dan kritik sejarah.
Ø  Bab VI adalah “Masalah dan Filsafat Sejarah”, berisi tentang evolusi sejarah, sifat saling hubung dan perubahan sejarah, masalah hubungan sejarah dan orang besar, masalah tradisi dan pembaharuan, hubungan antara sejarah kebudayaan dan pandangan hidup, aliran-aliran dalam filsafat sejarah (aliran Nasrani, perkembangan dialektis, teori kebudayaan ekonomi, positivisme, naturalisme, historisme dan pandangan eksistensi).
Ø  Bab VII adalah “Islam dan Sejarah”, berisi tentang hubungan sejarah dan sumber-sumber hukum Islam: Hadis, Qur’an, Ijtihad. Bab VIII adalah “Indonesia dan Masalah Sejarah”, berisi tentang masalah yang dihadapi Indonesia, pokok-pokok pikiran dalam acara-acara Seminar Sejarah Yogya dan ulasan tentang pokok-pokok pikiran itu. Pokok-pokok pikiran tersebut mengenai: konsepsi filsafat sejarah nasional, periodisasi sejarah Indonesia, syarat-syarat mengarang buku sejarah Indonesia yang bercorak nasional, pelajaran sejarah nasional di sekolah-sekolah, pendidikan ahli sejarah, pemeliharaan, dan penggunaan bahan-bahan sejarah.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
Kelebihan buku: buku “Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu” oleh Sidi Gazalba ini berisi penjelasan mengenai sejarah sebagai ilmu dengan isi yang sangat berbobot. Dari penjelasan penulisnya, pembaca bisa mengatahui bahwa penulis memiliki pemikiran yang luas dan juga kritis. Banyak kalimat tanya pada buku ini yang mengajak pembaca ikut mempertanyakan hal yang kadang tidak terpikirkan, dan setelah itu penulis berusaha mengulas atau membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara lengkap, logis dan kritis. Di bagian bawah, penulis juga menambahkah footnote yang digunakan untuk menjelaskan istilah-istilah sulit dalam pembahasan sehingga memudahkan pembaca memahami penjelasan yang diberikan oleh penulis.
Kekurangan buku: buku ini terbitan tahun 1981 sehingga tidak menjelaskan mengenai post-modernisme. Selain itu, pada Bab II yaitu Metode Ilmu Sejarah tidak menjelaskan secara eksplisit 4 langkah dalam metode penelitian sejarah yang biasa dibuku-buku pengantar ilmu sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, karena penulis menjelaskan metode ilmu sejarah dari dasar dan dalam sehingga perlu pemikiran yang dalam juga.\
KOMENTAR TENTANG BUKU
Buku Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu dari Sidi Gazalba ini menurut saya sangat bagus dan direkomendasikan untuk dibaca, karena di dalam buku ini, penulis benar-benar menjelaskan apa itu sejarah sejelas mungkin, dari pengertian, metode ilmu sejarah, penulisan sejarah, pembagian sejarah, sumber sejarah, masalah dan filsafat sejarah, Islam dan sejarah serta Indonesia dan masalah sejarah. Sangat lengkap dan recommended bagi para mahasiswa sejarah yang ingin mengetahui sejarah yang dikaji secara ilmiah.

Review Buku: Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda by Tineke Hellwig


Tema                           : Sejarah Perempuan Masa Kolonial
Pengarang                  : Tineke Hellwig
Judul Buku                  : Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda
Tahun Penerbit           : 2007
Kota Penerbit              : Jakarta
Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia

Buku karya Tineke Hellwig ini sangat menarik untuk dibaca karena pembaca bisa mengetahui dan memahami bagaimana kedudukan perempuan, baik perempuan pribumi, perempuan Indo maupun perempuan Eropa di masa kolonial yang digambarkan dalam teks-teks kesusastraan sezaman, yaitu akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menjadikan teks-teks kesusastraan sezaman menjadi sumber sejarah untuk mengetahui dan memahami keadaan sosial-budaya terutama kondisi dan kedudukan perempuan masa kolonial menjadi suatu keunikan dari buku ini yang merupakan alasan pertama saya memilih buku ini untuk di-review.
Dari teks-teks kesusastraan yang diceritakan dalam buku ini, pembaca dapat memahami dan merasakan bagaimana kehidupan dan kondisi para perempuan di tatanan kehidupan kolonial di berbagai bentuk kisah yang dikarang oleh orang Eropa maupun orang Non-Eropa. Teks-teks kesusastraan yang ada dalam buku ini disajikan dalam bentuk ringkasan-ringkasan cerita tetapi meskipun begitu, jiwa kisah yang ada pada teks-teks kesusastraan tersebut masih bisa dirasakan oleh pembaca.
Alasan kedua saya memilih buku ini untuk di-review adalah buku Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda ini tidak tebal (134 halaman) sehingga tidak memberatkan pembaca yang malas dengan buku yang tebal. Meskipun buku ini bisa dikatakan tidak tebal, namun isi dari buku ini bisa disampaikan secara runtut, mudah dipahami baik bahasa maupun jalan cerintanya, lengkap, tidak menjemuhkan dan yang paling penting adalah Tineke Hellwig berhasil menyampaikan tujuan serta pesan dari buku ini dengan baik. Selain itu yang membuat buku ini semakin menarik adalah pembaca dihadapkan dengan “fakta-fakta” sejarah perempuan masa kolonial yang jarang kita temukan di buku-buku masa kolonial yang basic. Pembaca diajak memahami perasaan, kondisi dan kedudukan perempuan baik dari pihak perempuan pribumi, Indo, maupun Eropa dari kisah-kisah yang berbeda-beda yang dipaparkan pada buku ini.
Pada bagian paling awal dari buku Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda, Tineke Hellwig berusaha mengantar pembaca untuk mengatahui sejarah kolonial (Hindia-Belanda) secara umum, yang bertujuan agar pembaca bisa memahami terlebih dahulu setting dari bahasan inti dari buku ini. Bab I, II dan III merupakan penjelasan mengenai konteks ekonomi dan sosial-budaya masa kolonial. Pada Bab I, penulis memberikan penjelasan mengenai dampak bangsa Eropa pada orang-orang yang hidup di Kepulauan Nusantara, dan Bab II dan III penulis berusaha meninjau perubahan-perubahan ekonomi-sosial yang berlangsung pada abad ke-19. Setelah bab-bab tersebut, penulis mulai membahas isi pokok dari buku ini, yaitu kondisi sosial perempuan di masa Hindia-Belanda yang terdapat pada teks-teks kesusastraan sezaman yang disajikan oleh penulis.
Bab I yaitu “Pengantar” berisikan sejarah Hindia-Belanda di Kepulauan Nusantara, dari Affonso de Albuquerque yang merupakan orang Eropa pertama yang datang ke Asia Tenggara tahun 1511, Bangsa Belanda pertama kali datang ke Kepulauan Nusantara yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596, masa VOC, masa Daendels (1808-1811), masa Thomas Stamford Raffles, masa Cultuurstelsel oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch, sampai masa Undang-Undang Agraria 1970. Namun, inti dari bab ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan dari kedatangan Bangsa Eropa di Kepulauan Nusantara yaitu timbulnya penggolongan masyarakat Hindia berdasarkan etnis, yaitu golongan Eropa asli, Indo, Timur Asing (Cina, India, Arab) dan pribumi. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan mengenai kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindia, seperti banyaknya orang kulit putih yang melakukan hubungan cinta dengan perempuan Asia karena mereka datang ke Hindia-Belanda dalam keadaan melajang (bujangan).
Bab II yaitu “Ekonomi dan Masyarakat Jajahan” berisikan keadaan ekonomi dan sosial-budaya di Hindia-Belanda pada abad ke-19. Bab ini menjelaskan keadaan ekonomi di Hindia-Belanda dari diterapkannya Cultuurstelsel, UU Agraria dan masa-masa akhir abad ke-19. Dari keadaan ekonomi di Hindia-Belanda, telah dijabarkan pengaruh segala kebijakan dan keadaan ekonomi dengan kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindia-Belanda, termasuk fakta bahwa masyarakat pribumi yang merupakan golongan terendah dari stratifikasi sosial Hindia-Belanda sangat tertindas, terutama para perempuan (masalah pergundikan dan nyai).
Bab III yaitu “Perempuan dan Hubungan Jender” yang berisikan kondisi dan kedudukan perempuan di Hindia Belanda, terutama para perempuan pribumi. Pada bab ini, dijelaskan bahwa pada masa VOC para bujangan Belanda didukung untuk membuat hubungan dengan perempuan Asia demi terbentuknya komunitas warga yang mantap dan bertahan di Kepulauan Nusantara, dengan syarat bahwa perempuan tersebut harus mau untuk masuk agama Kristen. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan tentang budak perempuan dari golongan pribumi yang harus menjadi gundik dan nyai para serdadu Belanda maupun atasan-atasannya. Bila orang Eropa mendapatkan anak dari perempuan pribumi, kebanyakan anak-anak yang disebut sebagai anak Indo tersebut diserahkan ke rumah yatim piatu atau tetap bersama ayah mereka. Yang menarik dari bahasan tersebut adalah munculnya budaya membalikkan nama keluarga saat mengadopsi atau mengesahkan anak Indo-nya.
Bab IV adalah “Para Pengarang dan Khalayak Pembacanya” yang berisikan penjelasan dari pengaranag-pengarang karya sastra pada abad ke-19 beserta perbedaan-perbedaan dari karya-karya mereka seperi dari segi bahasa (Belanda atau Melayu) dan pembacanya. Bahasa yang berbeda dalam karya sastra menunjukkan perbedaan khalayak pembacanya juga. Karya sastra pada masa itu terdiri dari karya sastra dari pengarang Belanda (menggunakan bahasa Belanda) dan karya sastra dari peranakan orang Tionghoa atau orang Indo (menggunakan bahasa Melayu). Adapun pengarang karya sastra orang Belanda seperti Louis Couperus, P. A. Daum, Annie Foore, Melati Van Java, dan Therese Hoven. Sedangkan pengarang karya sastra berbahasa Melayu seperti Gouw Peng Liang, Phoa Tjoen Huat, Njoo Cheong Seng, Herman Kommer, dan G. Francis. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan mengenai diskriminasi pengarang karya sastra dari pengarang perempuan.
Bab ke V adalah “Kecemburuan dan Rasa Tidak Puas” yang berisikan kisah-kisah yang diambil dari novel-novel karya pengarang Belanda. Inti cerita berkisar sekitar tokoh-tokoh Eropa, yaitu orang Belanda dan Indo. Menurut Hellwig (2007:64), “Sifat problematik masyarakat Hindia-Belanda dengan pengucilan rasialnya menggema di hampir kebanyakan kisah”. Dua tema yang dominan dari kisah-kisah yang dijabarkan pada bab ini adalah sifat misterius yang terdapat pada dunia khatulistiwa di Asia dan moralitas seksual yang mencakup masalah gundik dan voorkinderen. Banyak cerita yang disajikan di bab ini dengan jalan cerita yang berbeda-beda namun kebanyakan membentuk pola yang sama. Kebanyakan kisah-kisah yang diceritakan dari pengarang-pengarang yang disebutkan pada bab IV, adalah kisah kehidupan dari orang Belanda dengan nyai-nya, masalah voorkinderen setelah orang Belanda tersebut menikah dengan perempuan Eropa dan masalah balas dendam karena adanya kecemburuan.
Bab VI yaitu “Penerimaan dan Penyesuaian” yang berisikan karya-karya sastra berbahasa Melayu yang dikarang oleh peranakan orang Tionghoa maupun Indo. Yang berbeda antara karya sasta pada bab ini dengan bab sebelumnya adalah, karya-karya sastra berbahasa Melayu ini menggunakan perspektif oranng pribumi, sehingga tokoh-tokoh utama yaitu tokoh protagonisnya adalah perempuan pribumi. Tidak seperti pada karya sastra orang Belanda yang diceritakan pada bab V yang ditulis dari persektif orang Belanda dan merendahkan perempuan pribumi sebagai pembawa masalah.
Pada bab VII, yaitu “Gambaran tentang Perempuan” berisikan kesimpulan, analisis dan pembahasan dari tokoh-tokoh perempuan yang telah dibahas dari bab-bab sebelumnya baik dari karya sastra berbahasa Belanda maupun berbahasa Melayu. Adapun hasil analisis Hellwig pada bab ini seperti dari kisah Marie dan Yps (pada bab V) dapat diketahui bahwa perspektif orang Barat, tokoh nyai pada kisah tersebut merupakan makhluk jahat dan merusak. Selain itu, disimpulkan bahwa perempuan-perempuan Eropa dari kisah-kisah tersebut mengalami kesulitan menerima kehidupan luar perkawinan dan voorkinderen dari suaminya, dan banyak lagi hasil analisis dari kisah-kisah lainnya.
Dalam buku ini, Hellwig menggunakan model sejarah sosial Peter Burke yaitu model sejarah mikro. Adapun ciri-ciri model sejarah mikro adalah model sejarah yang berfokus pada sejarah orang-orang kecil, mengenai kehidupan sehari-hari, berskala kecil namun mendalam dan menekankan pada keunikan atau kekhasan. Dalam Burke (2015:60), sejarawan mikro bisa memfokuskan pada satu individu, satu kejadian, atau satu masyarakat kecil sebagai obyek khusus kajian yang dari sana diamati ketidakselarasan sistem sosial, celah-celah, keretakan-keretakan pada struktur, dan lain sebagainya. Dalam buku ini, Hellwig menuliskan mengenai perempuan-perempuan di masa kolonial Hindia-Belanda, kehidupan mereka sehari-hari dalam rumah tangga yang terdapat pada karya-karya sastra sezaman dan keunikan-keunikan setiap cerita yang menggambarkan kehidupan perempuan pribumi maupun Eropa pada masa itu.
Penulis dalam menuliskan buku ini, menggunakan konsep dan teori mengenai peranan dan kedudukan sosial kaum perempuan dalam struktur sosial Hindia-Belanda serta mengenai kecemburuan sosial yang dapat dirasakan dalam karya-karya sastra sezaman. Bagaimana peranan perempuan pribumi terutama nyai dalam rumah tangga masa kolonial, kedudukannya sebelum dan setelah datang istri sah (perempuan Eropa) dan peristiwa-peristiwa tragis yang dituangkan dalam cerita sastra sebagai dampak kecemburuan nyai ataupun perempuan Eropa di masa Hindia-Belanda, dijelaskan secara runtut dan jelas oleh penulis.
Dari buku karya Hellwig ini, pembaca mendapat pelajaran berharga bahwa dalam struktur sosial masyarakat kolonial, banyak menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan banyak usaha penyesuaian, terutama kaum perempuan yang pada penulisan sejarah Indonesia, sering diabaikan peranan dan kehidupannya. Kaum perempuan baik dari Eropa, Indo maupun pribumi memiliki kedudukan yang berbeda-beda dalam struktur sosial kolonial yang membuat banyak permasalahan pada masa itu yang sebenarnya bisa dikaji lebih lanjut.

DAFTAR RUJUKAN
Hellwig, Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan Di Hindia-Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burke, Peter. 2015. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


Friday, March 2, 2018

Membuat Bahan Ajar Sejarah Inovatif: Modul yang Kreatif

Assalamu'alaikum...
Hari ini saya akan memberikan sedikit inspirasi bagi guru sejarah atau mahasiswa sejarah yang bingung mencari inovasi bahan ajar sejarah yang ifektif dan pastinya menarik. Sudah merupakan masalah umum bahwa bahan ajar sejarah konvensional di sekolah seperti buku teks dan lks membuat siswa kita malas untuk belajar sejarah, karena hanya berbasis teks, sedikit gambar/ilustrasi dan banyaknya soal. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik harus membuat inovasi dalam pembelajaran. Hariyono (1995:145), mengungkapkan bahwa.
"Dengan pemilihan bahan belajar sejarah yang dianggap esensial, pendidik tidak merasa dikejar target untuk menyelesaikan semua materi yang ada di kurikulum. Pendidik mempunyai waktu untuk melakukan reintropeksi dan evaluasi secara makro terhadap proses belajar yang sedang dan telah dilakukan. Interaksi dengan peserta didiknya tidak hanya memungkinkan dirinya mengetahui tingkat kognitif peserta didik, melainkan juga aspek ketrampilan sosial serta afeksi. Dengan kata lain pendidik berpeluang untuk dapat mengembangtumbuhkan kesadaran sejarah bukan pengetahuan sejarah yang dimiliki saja dari peserta didik."
Di zaman sekarang yang serba IT, sudah banyak inovasi bahan ajar yang bisa kita jadikan referensi, BUT..... kebanyakan menurutku hanya didominasi aspek 'menarik' saja, dan melupakan aspek 'esensial' --> isi nya, so... ya begitulah Jadi bagaimana? Kalau kita mau menjadi kreatif, insyaAllah ada jalan :D Salah satu bahan ajar konvensional yang dapat kita jadikan objek inovasi adalah 'MODUL'. Modul adalah sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka, agar dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari pendidik (Prastowo, 2015:106). Jadi, kalau tujuan kita adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai sejarah, modul adalah salah satu bahan ajar yang tepat, karena modul berbasis belajar mandiri, siswa bisa belajar dengan modul dengan gaya belajarnya masing-masing, dan guru hanya mendampingi. Namun, modul yang digunakan juga harus menarik perhatian siswa, how? Banyak objek yang bisa dijadikan tambahan untuk membuat modul menjadi inovatif, contoh.... --> Modul yang layoutnya menarik, berwarna dan tidak terlalu berbasis teks --> Modul yang dikombinasikan dengan hal yang kekinian, contoh...modul yang isinya ada cuplikan komik, berita-berita, atau kalau skripsi saya, modul saya kombinasikan dengan lapbook (kalau pengen tahu coba klik di sini) Dalam penelitian pengembangan, yang diperlukan adalah keterbaharuan dan inovasi, semoga info ini membantu... Wassalamu'alaikum


Referensi 
Prastowo, A. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press. Hariyono. 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

INDISCHE PARTIJ