Semakin terbuka dan majunya pikiran
manusia terhadap supremasi bangsa asing, maka semakin meningkatnya kemauan
untuk maju dan beremansipasi dari kehidupan yang penuh diskriminasi. Ide-ide
kemajuan itulah yang akhirnya memicu suatu gerakan politik. Gerakan politik
terbuka pertama di masa pergerakan nasional Indonesia ditandai dengan
berdirinya Indhisce Partij (1912). Menurut Pringgodigdo dkk (1973:451),
Indische Partij merupakan perhimpunan politik di zaman penjajahan, didirikan di
Bandung (25 Desember 1912) oleh 3 Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker
(Setyabudi), Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo.
(Sumber: kompasiana.com)
Ide pendirian Indische Partij,
dipelopori oleh E.F.E Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi) pada tahun 1911,
yang berdarah Indo-Hindia (Indier).
Dia adalah orang yang sering mengkritisi sistem kolonial Belanda. Poesponegoro
(2010:350), bahwa Douwes Dekker menyampaikan kekritisannya dengan menulis
karangan-karangan seperti Het Tijdshrift
dan De Express, di mana isi
karangannya tersebut berisi propaganda, yaitu pelaksanaan suatu program
“Hindia” untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan menghapuskan
supremasi kolonial serta menyadarkan golongan Indo-Hindia dan penduduk
bumiputra, bahwa mereka memiliki musuh yang sama yaitu kolonialisme Belanda.
Menurut Kartodirdjo (2015:296),
bahwa Indische Partij berdasar atas ide penderitaan bersama di tanah koloni
Belanda. Bila dilihat dari kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan 3
Serangkai, terutama Douwes Dekker yang merupakan pelopor berdirinya Indische
Partij adalah ingin melepaskan diskriminasi bagi Indier agar bisa hidup lebih layak dan bisa terbebas (merdeka) dari
supremasi Belanda. Meskipun Budi Utomo merupakan pelopor semangat pergerakan
nasional, tetapi Indische Partij-lah pelopor konsepsi nasional dan ide
kemerdekaan pertama yang secara terang-terangan dilakukan dengan melalui jalan
politik.
Pada tanggal 25 Desember 1912, saat
pembentukan Indische Partij tersusunlah program-program revolusioner IP yang
akan membantu indiers mencapai tujuan
nya. Tujuan utama Indische Partij ialah untuk mencapai kebebasan dari supremasi
Belanda, meningkatkan jiwa kesatuan (nasionalisme) dan patriotisme, serta
memajukan negara. Dalam Poesponegoro (2010:351), disebutkan cara-cara Indische
Partij mencapai tujuan utama mereka, yaitu:
1. Memelihara
nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua Indiers.
2. Memberantas
rasa paling unggul atas SARA, yang menghalangi persatuan di Hindia.
3. Memperkuat
daya tahan rakyat (lahir-batin)
4. Berusaha
mendapatkan persamaan hak bagi semua rakyat Hindia.
5. Memperbaiki
keadaan ekonomi rakyat Hindia
6. Memperbesar
pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan, dan seterusnya.
Dalam menjalankan programnya, Indische
Partij sangat reaksioner dan berani. Dalam Gede Agung (2011:32), bahwa.
“Keberanian
dari IP, terlihat juga dengan mengadakan protes terhadap keinginan Belanda
untuk memperingati hari bebas negaranya yang ke-100 tahun (1913) dari kekuasaan
Perancis (1813). Apalagi dalam peringatan tersebut adanya keinginan untuk
menarik dana dari masyarakat pribumi, tentu tindakan ini sangat menyinggung
perasaan terhadap negara yang sedang terjajah. ....”
Protes-protes mereka dituangkan
dalam tulisan-tulisan persuasif, yang membangkitkan dan menyadarkan rakyat
Hindia bahwa mereka harus bersatu untuk bangkit untuk merdeka dari supremasi
kolonial. Menurut Gede Agung (2011:32),
tulisan-tulisan tersebut berupa pamflet-pamflet, di antaranya adalah Als k cen Nederlanders Was (Andaikan aku
seorang Belanda), Kracht of Vress
(kekuatan atau ketakutan), Een voor Allen
naar ook Allen voor Een (satu buat semua, tetapi juga buat satu), Onze Helden: Tjipto Mangunkusumo en R. M. Suwardi Suryaningrat (Pahlawan
kita: Tjipto Mangunkusumo dan R. M. Suwardi Suryaningrat) Tulisan-tulisan
mereka berisi kritikan atas ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah. Belanda
semakin marah, karena propaganda yang dilakukan terang-terangan oleh Indische
Partij. Menurut Dijk (2007:61), ““.... The
Indische Partij was transformed into a banned organization. In the eyes of
idenburg and his advisers, it had taken on the guise of a political party....”.
Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Indische Partij akhirnya berubah
menjadi partai politik yang dilarang oleh Pemerintah Belanda, karena
menyuarakan propaganda-propaganda politik yang dapat mengancam Belanda. Untuk
itu Belanda mengeluarkan surat keputusan, yaitu melarang kegiatan Indische
Partij dan mengucilkan 3 tokoh utama dalam Indische Partij, yaitu 3 Serangkai.
“....
Menurut penilaian pemerintah sudah terlalu jauh bila orang berpropaganda
menentang diskriminasi rasial dan berjuang demi Hindia yang mandiri, lepas dari
negara Belanda. maka Indische Partij pun dilarang pada Maret 1913. Namun Douwes
Dekker tetap aktif dan agresif dalam mempropagandakan gagasan-gagasan dan
kritiknya” (Poeze, 2008:89).
Menurut Dekker (1975) dan Shiraishi
(1997), aksi larangan Belanda itu dikarenakan Belanda menganggap kegiatan
Indische Partij telah melanggar Undang-Undang tahun 1854 Regering Reglement (RR) pasal 3 yang isinya bahwa
perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan soal
pemerintahan (politik) atau yang membahayakan keamanan umum di larang di Hindia
Belanda (Gede Agung, 2011:32).
Dari surat keputusan Belanda
tersebut, tokoh 3 Serangkai yaitu Douwes Dekker, Soewardi Suryaningrat, Cipto
Mangunkusumo diasingkan ke Belanda pada tahun 1913, ini menyebabkan Indische
Partij lemah dan mengganti nama menjadi Partai Insulinde (1907). Meskipun
begitu, partai ini tetap lemah tanpa 3 Serangkai, apalagi tidak banyak pribumi
dan Indo-Hindia yang tertarik bergabung dengan Partai Insulinde. Mereka lebih
memilih organisasi-organisasi lain.
Pada tahun 1918, Douwes Dekker
kembali dari pengasingan. Meskipun begitu, tidak ada yang berubah karena sangat
sulit membangun Partai Insulinde lagi. Sehingga Douwes Dekker pada tahun 1919 di
bulan Juni mendirikan Nationaal Indische
Partij.
Agung,
Dewa Agung Gede. 2011. Sejarah Indonesia
Modern Periode 1908-1949. Malang: Malang Press.
Dijk,
Cornelis. 2007. The Netherlands Indies
and The Great War 1914-1918. Leiden: KITLV Press.
Kartodirdjo,
Sartono. 2014. Pengantar Sejarah
Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro,
Marwati Djoened. 2010. Sejarah Nasional
Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta:
Balai Pustaka.
Poeza,
Harry A. 2008. Di Negeri Penjajah: Orang
Indonesia Di Negeri Belanda 1600-1950. Jakarta: Gramedia.
Pringgodigdo, Mr. A. G,
dkk. 1973. Ensiklopedia Umum.
Yogyakarta: Kanisius.
Sumber Foto
https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2015/10/31/tiga-serangkai 5633b8341193739d0b64c0b6.jpg
